01470 2200205 4500001002100000005001500021008004100036020002200077035001900099041000700118082000800125090002000133100001900153245002700172250001100199260001600210300003500226500098100261650002201242INLIS00000000000803620251203150023251203||||||||| | ||| |||| || |  a978-979-3927-12-7 0010-1225008028 aid0 a300 a374.012 4 NAN f0 aNANING PRANOTO00aFrom diary to be story aCet. I aBogorc2006 a108 halaman : ilustrasi; 20 cm aDiaria (bahasa Latin) – adalah akar kata dari diary alias buku harian. Artinya, ‘masukan’ sehari-hari selama 24 jam secara berkesinambungan. ‘Masukan’ di sini adalah peristiwa yang sangat pribadi untuk dicurahkan dalam bentuk catatan. Itulah sebabnya, diary disebut pula sebagai sahabat sejati. Bahkan ada juga yang menamakannya sebagai keranjang sampah, karena kemarahan dan sumpah serapah dapat dengan bebas dan leluasa ‘dimuntahkan’ ke dalam diary. Karena ia akan menyimpannya rapat-rapat sebagai rahasia penulisnya. Bila disusun, kumpulan catatan pribadi mengenai kejadian yang dialami sehari-hari ini, ternyata dapat dijadikan materi (bahan) untuk menulis cerita, yaitu mengubah diary menjadi story. Proses ini disebut mengubah fakta (kenyataan) menjadi fiksi (khayalan), yaitu berupa cerita pendek (cerpen), novel pendek (novelet), novel, naskah drama, skenario film, atau skenario sinetron. Semuanya itu disebut karya penulisan kreatif (creative writing). 0aFiksi buku harian